- Struktur pengelompokan kelas, yang meliputi struktur pembelajaran bebas, struktur kelompok-kelompok kecil, dan struktur kelas keseluruhan. Masing-masing struktur pengelompokan tersebut memiliki karakter yang khas yang akan mewarnai proses belajar mengajar.
- Struktur otoritas, lebih menekankan seberapa banyak guru melakukan pengendalian terhadap segala aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh siswa. Besar kecilnya kadar keterlibatan guru dalam proses pembelajaran ditentukan oleh kebutuhan akan pembelajaran yang tentunya akan mewarnai kualitas proses pembelajaran.
- Struktur penghargaan, secara umum dapat dibedakan atas struktur penghargaan individualistik, kompetitif, dan kolaboratif. Dalam rangka organisasi sosial kelas, struktur penghargaan kolaboratif memiliki posisi paling strategis.
Di samping 3 struktur kelas yang diungkapkan tersebut, terdapat pula 2 struktur yang lain, yaitu tugas dan tujuan. Struktur tugas mengacu pada pada 2 hal, cara pengorganisasian pembelajaran dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa didalam kelas. Struktur tujuan suatu pembelajaran adalah jumlah saling ketergantungan yang dibutuhkan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.
Dalam struktur individualistik, para siswa mengatakan “me alone” dan merasakan tidak memiliki ketergantungan pada siswa lain dalam rangka mencapai tujuan. Dalam struktur tujuan kompetitif, siswa mengatakan “me instead of you”. Dalam mencapai tujuan kompetitif, siswa lebih didorong oleh keinginan bersaing. Dalam pembeajaran kompetitif, siswa dapat mencapai suatu tujuan jika siswa lain tidak mencapai tujuan tersebut (Arends, 1998; Bennert et al., 1991; Qin &johson, 1995)
Struktur tujuan kolaboratif dicirikan oleh jumlah saling ketergantungan yang begitu besar antar siswa dalam kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa mengatakan “we as well as you”, dan siswa akan mencapai tujuan hanya jika siswa lain dalam kelompok yang sama dapat mencapai tujuan mereka bersama (Arends, 1998; Heinich et al., 2002; Slavin, 1995; Qin & Johson, 1995).
Kesuksesan dalam praktek-praktek pembelajaran memiliki sifat-sifat yang didukung oleh beberapa alasan. Pertama, partisipasi aktif siswa. Pembelajaran efektif terjadi apabila para siswa secara aktif terlibat dalam tugas-tugas yang bermakna dan akan terlibat dalam berinteraksi dengan isi pelajaran. Kedua, praktek. Dalam konteks-konteks yang bervariasi, praktek dapat memperbaiki retensi dan kemampuan menerapkan pengetahuan baru, ketrampilandan sikap. Ketiga, perbedaan-perbedaan individu. Metode pembelajaran dikatakan efektif apabila dapat mengatasi perbedaan-perbedaan individu dalam hal personalitas, bakat umum, pengetahuan awal siswa. Keempat, balikan. Balin sangat diperlukan untuk menentukan posisi diri siswa sendiri tentang tugas yang dikerjakan. Kelima, konteks-konteks realistik. Para siswa paling mudah mengingat dan menerapkan pengetahuan yang direpresentasikan dalam suatu konteks dunia nyata. Keenam, interaksi sosial, melayani kemanusiaan sebagai tutor atau anggota kelompok teman sebaya dapatmenyediakan sejumlah pedagogik dan juga dukungan-dukungan sosial.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction) pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan perbedaan antar individu. Penbelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari 2 kekuatan yang bertemu, yaitu :
- Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratifdalam kehidupan di dunia nyata
- Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
[...] melihat selengkapnya, silahkan klik di sini Tweet [...]
BalasHapusThank you very much for this information...
BalasHapus