Pengoptimalan hasil dari pada pembelajaran merupakan problematika yang tak hentinya dibahas. Kualitas peradaban sumber daya manusia salah satunya dipengaruhi oleh faktor pendidikan yang mengarah pada segala bidang kehidupan. Pendidikan melalui pembelajaran dilakukan untuk mendapatkan perubahan dalam diri pebelajar dengan adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik. Pembelajaran merupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik dan dapat mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan terhadap hasil belajar (kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap).
Adalah penting ketika seorang pendidik melakukan inovasi atau pembaharuan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Hal tersebut sangat beralasan ketika dihadapkan pada realita bahwa mayoritas pendidik melakukan pembelajaran yang hanya bersifat transfer pengetahuan, tanpa melihat lebih dalam peran otak dalam proses pembelajaran, karakteristik individu, dan sebagainya sehingga berdampak pada lemahnya hasil pendidikan seperti siswa yang kurang percaya diri, siswa yang lemah dalam praktik, siswa pendiam, gagal belajar dan sebagainya.
Inovasi diperlukan dalam pembelajaran untuk memfokuskan peserta didik agar dapat aktif, berpikir kritis dan dapat mengembangkan segala potensi yang tersimpan. Hasil belajar peserta didik tersebut bersumber pada kinerja otak. Bagaimana tidak, otak merupakan pusat system syaraf yang mengkoordinasikan segala sinyal-sinyal rangsangan sehingga menghasilkan informasi. Otak terdiri dari otak bagian kanan dan otak bagian kiri, dimana otak bagian kanan berfikir secara abstrak dan merupakan pusat imajinasi, sedangkan otak bagian kiri merupakan pusat berpikir logis. Berdasarkan fungsi masing-masing belahan otak, mengingatkan pada perlunya keseimbangan dan pengaktifan otak kanan serta otak kiri pada setiap proses pembelajaran.
Otak berkembangan sesuai dengan lingkungannya. Oleh karena itu lingkungan perlu diperkaya dengan informasi dan pengetahuan yang baru, sehingga otak akan senantiasa menerima penyegaran serta terkoneksi untuk menghasilkan respon. Penalaran, perencana dan penetapan keputusan, rasional berpikir, pengaturan emosi, penyimpanan atau memory merupakan fungsi daripada otak. Urgent-nya fungsi otak dalam pencapaian informasi mendorong kuat perlunya inovasi pembelajaran untuk mengkreatifkan pendidik (khususnya dalam pembelajaran) guna memberikan stimulus, sentuhan yang tepat demi terciptanya konsep, pemahaman, penalaran pada otak serta pemerkaya lingkungan pengetahuan. Pembelajaran berbasis otak merupakan salah satu inovasi yang dapat dilakukan guna memaksimalkan sistem kinerja otak agar dapat memperoleh suatu hasil pemikiran yang real dan representatif atau tepat pada sasaran yang dituju yang berkait dengan penguasaan pembelajaran.
Pembelajaran berbasis otak diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah dan aktif untuk belajar dengan menciptakan kondisi optimal untuk terjadinya pembelajaran yang alami. Pembelajaran berbasis otak didesain untuk membangkitkan otak anak untuk belajar secara mandiri dan tidak dipaksakan untuk mencapai target tertentu yang diinginkan. Namun lebih dari itu, pembelajaran berbasis otak memungkinkan terjadinya umpan balik pada proses pembelajaran sebagai hasil pemahaman terhadap informasi yang diterimanya. Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada siswa mengenai keberhasilan atau kekurangan dalam belajarnya. Umpan balik sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, yang dapat berupa reward ataupun kritikan bersifat membangun. Motivasi yang ditimbulkan akan merangsang kinerja dan memberikan sinyal-sinyal aktif pada otak. Pembelajaran berbasis otak ini juga memungkinkan tercapainya keseimbangan kerja otak kiri dan kanan melalui pembelajaran sambil bermain. Pembelajaran sambil bermain dapat mengarahkan peserta didik untuk tetap menggunakan pemikiran yang logis dan menggunakan imajinasi serta kesenangannya untuk bermain.
Hal yang juga perlu dicermati pendidik kaitannya dengan perlunya inovasi pembelajaran yaitu inividu anak sebagai pribadi dan unik. Individu anak sebagai pribadi berkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berbeda-beda, seperti pertumbuhan fisik (biologis), perkembangan kognitif dan perkembangan psikososial. Pertumbuhan fisik mengarah pada perubahan fisis kuantitatif anak yang berlainan satu sama lain seperti tinggi badan, berat, rambut, hormon, system saraf dan sebagainya.
Perkembangan mengarah pada kematangan tingkat emosional, seperti perkembangan kognitif (kemampuan berpikir, kesiapan belajar anak) dan perkembangan psikososial (emosi, kepribadian, kemampuan anak dalam beradaptasi). Perkembangan kognitif membatasi kemampuan anak yang berbeda-beda untuk memperoleh pengetahuan. Perkembangan psikososial menyebabkan terdapatnya anak yang percaya diri, minder, takut, perilaku agresif dan sebagainya. Sebagai individu pribadi, maka fisik, kognitif dan sosial anak merupakan sesuatu yang utuh, tunggal, dan khas.
Menelusur lebih jauh tentang perbedaan anak, maka dapat diuraikan pula pada sisi lain bahwa anak juga merupakan pribadi yang unik atau pebelajar yang unik. Sebagai pribadi yang unik, aspek biologis, kognitif dan psikososial masing-masing anak berbeda serta terkait satu sama lain yang artinya perkembangan anak bersifat menyeluruh (holistic). Anak sebagai pebelajar yang unik memungkinkan karakteristik yang berbeda setiap anak, seperti bakat, minat dan kompetens. Anak sebagai pebelajar yang unik tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Anak dan orang dewasa merupakan manusia yang berbeda dalam kajian kematangan fisik, mental maupun emosional. Perbedaan tersebut perlu diperhatikan karena mengarah pada karakteristik atau pola tingkah laku anak dalam belajar.
Menghadapi kekhasan pada diri setiap anak, maka guru perlu melakukan suatu inovasi yang mengkondisikan anak untuk nyaman belajar dan memberikan pembelajaran yang dapat melayani keunikan setiap anak dengan segala perbedaan yang dimilikinya. Pembelajaran konstekstual merupakan alternative inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan pada kajian pribadi dan uniknya individu pebelajar. Pembelajaran konstekstual memperhatikan beberapa hal, yaitu memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, lebih mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat. Melalui pembelajaran ini, siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar. Inovasi pembelajaran yang melayani perbedaan individu memungkinkan pemerolehan kebermanfaatan pembelajaran yang menyeluruh bagi setiap anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar