Peradaban masyarakat Madinah pada masa awal adalah bukti konkret keberhasilan dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Digambarkan, hubungan sosial masyarakatnya sangat hangat dan indah, saling menghargai dan menghormati di tengah-tengah perbedaan, tidak saling memaksakan kehendak dan pendapat sendiri. Keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan Rasulullah Saw dalam melakukan komunikasi ajaran-ajaran Ilahiah dengan baik yang ditopang dengan keluhuran budi pekerti. Jika ditelusuri sirah (sejarah) Rasulullah Saw, akan dijumpai bahwa keberhasilan itu karena beliau menerapkan seluruh prinsip-prinsip komunikasi dalam Al-Qur'an secara konsisten.
Kemampuan bicara berarti kemampuan berkomunikasi. Berkomunikasi adalah sesuatu yang dihajatkan di hampir setiap kegiatan manusia. Dalam sebuah penelitian telah dibuktikan, hampir 75 % sejak bangun dari tidur manusia berada dalam kegiatan komunikasi. Dengan komunikasi kita dapat membentuk saling pengertian dan menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan melestarikan peradaban. Akan tetapi, dengan komunikasi, juga kita dapat menumbuh-suburkan perpecahan, meng¬hidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan, dan menghambat pemikiran.
Kenyataan ini sekaligus memberi gambaran betapa kegiatan komunikasi bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh setiap manusia. Anggapan ini barangkali didasarkan atas dasar asumsi bahwa komunikasi merupakan suatu yang lumrah dan alamiah yang tidak perlu dipermasalahkan. Sedemikian lumrahnya, sehingga seseorang cenderung tidak melihat kompleksitasnya atau tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya berkeku¬rangan atau tidak berkompeten dalam kegiatan pribadi yang paling pokok ini. Dengan demikian, berkomunikasi secara efektif sebenarnya merupakan suatu perbuatan yang paling sukar dan kompleks yang pernah dilakukan seseorang.
Prinsip-prinsip Komunikasi dalam Al-Qur'an Meskipun Al-Qur'an secara spesifik tidak membicarakan masalah komunikasi, namun, jika diteliti ada banyak ayat yang memberikan gambaran umum prinsip-prinsip komunikasi. Dalam hal ini, penulis akan merujuk kepada term-term khusus yang diasumsikan sebagai penjelasan dari prinsip-prinsip komunikasi tersebut. Antara lain, term qaulan balighan, qaulan maisuran, qaulan kariman, qaulan ma’rufan, qaulan layyinan, qaulan sadidan, juga termasuk qaul al-zur, dan lain-lain.
a. Prinsip Qaulan balighan
Di dalam al-Qur'an term qaulan baligha hanya disebutkan sekali, yaitu surat An-Nisaa:
Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS An-Nisaa 4 : 62-63) Ayat ini memberikan informasi tentang kebusukan hati kaum munafik, bahwa mereka tidak akan pernah mengikuti tuntunan Rasulullah saw, meski mereka bersumpah atas nama Allah bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata hanya menghendaki kebaikan. Walapun begitu, Rasulullah Saw dilarang menghukum mereka secara fisik (makna dari “berpalinglah dari mereka”). Akan tetapi, cukup mem¬beri nasehat sekaligus ancaman bahwa perbuatan buruk mereka akan mengakibatkan turunnya siksa Allah, dan berkata kepada mereka dengan perkataan yang baligh.
Term baligh, yang berasal dari ba la gha, oleh para ahli bahasa dipahami sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Juga bisa dimaknai dengan “cukup” (al-kifayah). Sehingga perkataan yang baligh adalah perkataan yang merasuk dan membekas dalam jiwa.
Sementara menurut al-Ishfahani dalam buku Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an, ditahqiq oleh Muhammad Sayyid Kailani, bahwa perkataan tersebut me¬ngan¬dung tiga unsur utama, yaitu (1) bahasanya tepat sesuai kondisi lawan bicara (2) substansinya sesuai dengan yang dikehendaki (jelas), dan (3) isi perkataan adalah suatu kebenaran. Sedangkan term baligh dalam konteks pembicara dan lawan bicara, adalah bahwa si pembicara secara sengaja hendak menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar agar bisa diterima oleh pihak yang diajak bicara.
b. Prinsip Qaulan kariman
Term ini ditemukan di dalam Al-Qur'an hanya sekali, yaitu surat Al-Isra: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia (QS Al Isra 17: 23)Ayat tersebut memberikan informasi bahwa ada dua ketetapan Allah yang menjadi kewajiban setiap manusia, yaitu menyembah Allah dan berbakti kepada kedua orang tua. Ajaran ini sebenarnya ajaran kemanusiaan yang bersifat umum, karena setiap manusia pasti menyan¬dang dua predikat ini sekaligus, yakni sebagai makhluk ciptaan Allah, yang oleh karenanya harus menghamba kepada-Nya semata; dan anak dari kedua orang tuanya.
Sebab, kedua orang tuanyalah yang menjadi perantara kehadirannya di muka bumi ini. Bukan hanya itu, struktur ayat ini, di mana dua pernyataan tersebut dirangkai dengan huruf wawu 'athaf, yang salah satu fungsinya adalah menggabung¬kan dua pernyataan yang tidak bisa saling dipisahkan, menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orag tua menjadi parameter bagi kualitas penghambaan manusia kepada Allah.
Dalam sebuah hadis dinyatakan:
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. Bersabda, "Merugilah 3x, seseorang yang menemukan salah satu atau kedua orang tuanya sudah lanjut usia tidak bisa masuk surga” (HR. Ahmad) Berkaitan dengan inilah, Al-Qur'an memberikan petunjuk bagaimana cara berprilaku dan berkomunikasi secara baik dan benar kepada kedua orang tua, terutama sekali, di saat keduanya atau salah satunya sudah berusia lanjut.
Dalam hal ini, Al-Qur'an menggunakan term karim, yang secara kebahasaan berarti mulia. Term ini bisa disandarkan kepada Allah, misalnya, Allah Maha Karim, artinya Allah Maha Mulia; juga bisa disandarkan kepada manusia, yaitu menyangkut keluhuran akhlak dan kebaikan prilakunya. Artinya, sese¬orang akan dikatakan karim, jika kedua hal itu benar-benar terbukti dan terlihat dalam kesehariannya.
Namun, jika term karim dirangkai dengan kata qaulan atau perkataan, maka berarti suatu perkataan yang menjadikan pihak lain tetap dalam kemuliaan, atau perkataan yang membawa manfaat bagi pihak lain tanpa bermaksud merendahkan.
Di sinilah Sayyid Quthb menyatakan bahwa perkataan yang karim, dalam konteks hubungan dengan kedua orang tua, pada hakikatnya adalah tingkatan yang tertinggi yang harus dilakukan oleh seorang anak. Yakni, bagaimana ia berkata kepadanya, namun keduanya tetap merasa dimuliakan dan dihormati. Ibn 'Asyur menyatakan bahwa qaulan karima adalah perkataan yang tidak memojokkan pihak lain yang membuat dirinya merasa seakan terhina. Contoh yang paling jelas adalah ketika seorang anak ingin menasehati orang tuanya yang salah, yakni dengan tetap menjaga sopan santun dan tidak bermaksud menggurui, apalagi sampai menyinggung perasaannya.Qaulan karima, adalah setiap perkataan yang lembut, baik, yang mengandung unsur pemuliaan dan penghormatan.
Dalam konteks dan kondisi yang berbeda untuk kedua hal diatas, Al Qur’an mengajarkan kepada kita substansi dan metode komunikasi yang berbeda. Sekali lagi tetap dalam bingkai tujuan komunikasi yang efektif dan bermanfaat. Bagaimana kualitas komunikasi kita?
Term komunikasi lainnya dalam Islam, yang secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut,
qaulan maisyura (perkataan lembut dan melegakan),
qaulan ma’rufan (perkataan baik yang sesuai dengan kondisi pihak – pihak yang berkomunikasi),
qaulan layyinan (perkataan baik yang disertai penguatan dengan contoh),
qaulan syadiidan (perkataan argumentatif dan menguatkan) adalah keragaman pola dan prinsip komunikasi yang secara substansial menunjukkan metode yang berbeda untuk konteks dan tujuan yang berbeda pula. Namun semua metode harus tetap berdasarkan pada substansi yang dibenarkan oleh Islam. Bagaimana implementasi yang tepat untuk setiap metode komunikasi ? Bagaimana Rasulullah Saw mengamalkan perintah – perintah Allah Swt dalam setiap konteks dan masalah yang terkait, begitulah implementasinya.
Salah satu metode komunikasi lainnya yang cukup penting diuraikan lebih rinci dalam konteks sebagai pengingat untuk dihindari adalah
qaulan zuura (perkataan dusta).
Dalam Al qur’an, Allah Swt berfirman:
Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah. Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan telah Dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (QS Al-Hajj 22 : 30)Ayat ini dapat dipahami, bahwa ketika seseorang berbuat baik dengan meninggalkan yang haram dan melaksanakan yang halal, akan tetapi tidak menjauhi syirik dan perkataan dusta, maka perbuatan baik tersebut tidak memiliki dampak spiritual apapun bagi dirinya.
Atau juga bisa dipahami bahwa perkataan dusta hakikatnya sama dengan menyembah berhala, dalam hal sama-sama mengikuti hawa nafsu. Dimaknai sebagai perkataan dusta, karena menyimpang/melenceng dari yang semestinya atau yang dituju, yang oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai mengharamkan yang halal atau sebaliknya menghalalkan yang haram; serta ber-saksi palsu. Rasulullah saw, sebagaimana dikutip oleh al-Razi, bersabda , ‘Saksi palsu itu sebanding syirik’. Dalam kaitan ini menurut al-Qurthubi, ayat ini mengandung ancaman bagi yang memberikan saksi dan sumpah palsu. Ia termasuk salah satu dosa besar.
Karena itu, dalam Islam mengajarkan pula bagaimana membangun komunikasi beradab dalam konteks melakukan komunikasi dengan memegang prinsip
akhlaqul karimah. Membangun komunikasi beradab tersebut paling tidak didasarkan kepada 3 (tiga) aspek, yaitu
Komunikasi dan pendidikan
Dalam konteks komunikasi beradab, maka Islam memandang komunikasi harus mengandung aspek pendidikan yang ditekankan kepada pengembangan karakter atau
akhlaq. Pembangunan karakter (
character building) tidak identik dengan transfer ilmu. Sehingga di dalam Islam dikenal istilah
tarbiyah yang didefinisikan oleh al-Ishfahani sebagai upaya mendorong dan mengawal pihak lain menuju kepada kesempurnaannya.
Dalam hal ini harus dipahami bahwa komunikasi bukanlah bersifat indoktrinasi atau propaganda, akan tetapi, suatu proses yang bersifat komunikatif dan membangun (konstruktif). Di sini proses komunikasi pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan yang bersifat satu arah; akan tetapi, harus ada upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak terutama pihak pendidik, sebagai komunikator, untuk mampu memberikan keteladan yang baik, sebagai upaya ber-metakomunikasi.
KomunikasidanMasyarakat
Masyarakat adalah orang kebanyakan, yang secara sosial dan pendidikan biasanya rendah dan lemah. Sehingga, masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang paling mudah untuk dipengaruhi dan diprovokasi. Oleh karena itu, dalam konteks membangun hubungan masyarakat, seharusnya menerapkan prinsip-prinsip
qaulan baligha yaitu bahasanya tepat,dan isi perkataan adalah suatu kebenaran, bukan semata-mata bersifat provokatif dan manipulatif. Di sinilah, keluhuran akhlak komunikator menjadi sangat penting, dalam konteks membangun hubungan sosial maupun politik. Sebab, pengetahuannya tentang khalayak tidak dimaksudkan untuk menipu dan memprovokasi. Akan tetapi untuk memahami, bernegosiasi, serta bersama-sama saling memuliakan kemanusiaannya.
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana seandainya jiwa dan karakter sang komunikator itu tidak baik, seperti ambisius dalam konteks destruktif, serakah, dan lain-lain, maka kemampuan retorika dan logikanya justru akan dijadikan sebagai alat untuk mempengaruhi masyarakat demi memenuhi ambisinya. Dalam hal ini, bisa dilihat pada kasus Fir'aun:
"Dan Fir'aun berkata, "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetaui tuhan bagimu selain aku…". Melalui perkataannya, Fir'aun ingin mempengaruhi pikiran dan jiwa masyarakat, bahwa ia memang layak diposisikan sebagai tuhan, karena pada kenyataannya ‘hanya’ dialah yang bisa menjamin tingkat kelayakan hidup rakyat Mesir saat itu.
Fir'aun paham betul dengan apa yang diinginkan oleh rakyat Mesir, yaitu hidup sejahtera, layak, terpenuhinya seluruh kebutuhan hidupnya. Dan Ia menggunakan ‘kekuasannya’ untuk mengatur kebutuhan masyarakat sesuai ambisinya. Ia berusaha untuk memperoleh dukungan seluas-luasnya. Namun sekali lagi, tidak didasarkan kepada kebenaran yang menjadi tuntunan Islam.
Komunikasi dan Dakwah
Inti dakwah adalah mengajak orang lain untuk mengikuti tuntunan Allah Swt. Oleh karenanya, kemampuan berkomunikasi dengan baik menduduki posisi yang strategis. Demikian itu, karena Islam memandang bahwa setiap muslim adalah da’i. Sebagai da'i, ia senantiasa dituntut untuk mau dan mampu mengkomunikasikan ajaran-ajaran Ilahi secara baik. Sebab, kesalahan dalam mengkomunikasikan ajaran Islam, justru akan membawa akibat yang cukup serius dalam perkembangan dakwah Islam itu sendiri.
Firman Allah Swt:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali-Imran 3 : 104) Ayat tersebut memberi arahan kepada setiap anggota masyarakat, terutama umat muslim, agar selalu mengajak kepada kebaikan, memerintahkan dengan ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Bukan tanpa sengaja jika ayat ini mendahulukan, menyeru kepada kebajikan dari pada menyuruh kepada yang ma’ruf . Meskipun dari sisi penerjemahan keduanya bisa saja memiliki arti yang sama. Namun oleh para ahli tafsir, kata kebajikan dipahami sebagai kebaikan yang bersifat universal, seperti keadilan, kejujuran, kepedulian sosial, ketertiban, perdamaian, dan lain-lain. Oleh karena itu, sebagai bagian dari masyarakat, umat muslim mempunyai komitmen untuk peduli terhadap segala bentuk perilaku anti sosial. Umat muslim harus senantiasa tampil yang terdepan untuk menyeru, sekaligus memberi keteladanan.
Masyarakat semacam ini pernah dibangun oleh Rasulullah saw sewaktu berada di Madinah; dan ini merupakan bukti konkrit dari keberhasilan dakwah beliau. Keberhasilan ini tentu saja suatu prestasi yang luar biasa. Dengan bersandar kepada kekuatan dan pertolongan dari Allah Swt semata, dari aspek manusiawi ada faktor lain yang dianggap cukup dominan dalam konteks keberhasilan dakwah dan pembangunan masyarakat Madinah ini, yaitu kemampuan beliau dalam melakukan komunikasi atas ajaran-ajaran Ilahi tersebut dengan baik dan persuasif, yang ditopang oleh keluhuran budi pekerti beliau sendiri.
Jika kita telusuri sirah (sejarah) Rasulullah Saw, maka akan dijumpai betapa beliau telah menerapkan seluruh prinsip-prinsip komunikasi dalam al-Qur'an, sebagaimana diuraikan, secara konsisten. Adakah kita sebagai ummatnya selalu berusaha menjadikan Rasulullah Saw sebagai model dan tauladan?
Wallahu’alambishshawab