Sekarang setelah usia enam puluh tahun, aku baru menyadari bahwa pada usia antara dua puluh tahunan itu sebenarnya aku cukup bahagia. Tapi syang kesadaranku terlambat .
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, sehingga hal itu hanya tinggal kenangan belaka yang sekarang hanya menyisakan penyesalan. Sekiranya aku menyadari hal tersebut pada waktu itu, niscaya hidupku penuh dengan kegembiraan yang besar dan aku tidak akan pernah mengenal arti mengeluh atau rasa tidak puas ketika usia berada dipuncak kemudaan yang begitu ceria. Aku juga pasti tidak akan pernah menutupi kebahagianku yang sedang mekar-mekarnya itu.
Sayang...hal itu baru aku sadari sekarang ini yakni ketika usiaku sudah cukup senja”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar