Selasa, 03 Januari 2012

Sejarah Qunut

Peristiwa Bi’r Ma’unah dan Awal Mula Qunut Nazilah


penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Jejak 04 - Mei - 2006 19:02:55

Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa kaum muslimin. 70 shahabat pilihan yg merupakan para qurra` dibantai dgn hanya menyisakan satu orang saja. Peristiwa ini mengguratkan kesedihan yg mendalam pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun mendoakan kejelekan kepada para pelaku selama satu bulan penuh. Inilah awal mula ada Qunut namun tentu saja bukan seperti yg dipahami oleh masyarakat kebanyakan di mana dilakukan terus menerus tiap Shalat Shubuh.

Pada bulan Shafar tahun keempat hijriah peristiwa ini terjadi. Ketika itu datang Abu Barra` ‘Amir bin Malik menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah kemudian oleh beliau diajak kepada Islam. Ia tdk menyambut namun juga tdk menunjukkan sikap penolakan.
Kemudian dia berkata: “Wahai Rasulullah seandai engkau mengutus shahabat-shahabatmu kepada penduduk Najd utk mengajak mereka kepada Islam aku berharap mereka akan menyambutnya.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku mengkhawatirkan perlakuan penduduk Najd atas mereka.” Tapi kata Abu Barra`: “Aku yg menjamin mereka.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus 70 orang shahabat ahli baca Al-Qur`an termasuk pemuka kaum muslimin pilihan. Mereka tiba di sebuah tempat bernama Bi`r Ma’unah sebuah daerah yg terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan kampung Bani Sulaim. Setiba di sana mereka mengutus Haram bin Milhan saudara Ummu Sulaim bintu Milhan membawa surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Amir bin Thufail. Namun ‘Amir bin Thufail tdk menghiraukan surat itu bahkan memberi isyarat agar seseorang membunuh Haram. Ketika orang itu menikamkan tombak dan Haram melihat darah dia berkata: “Demi Rabb Ka’bah aku beruntung.”
Kemudian ‘Amir bin Thufail menghasut orang2 Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat lain namun mereka menolak krn ada perlindungan Abu Barra`. Diapun menghasut Bani Sulaim dan ajakan ini disambut oleh ‘Ushaiyyah Ri’l dan Dzakwan. Merekapun datang mengepung para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu membunuh mereka kecuali Ka’b bin Zaid bin An-Najjar yg ketika itu terluka dan terbaring bersama jenazah lainnya. Dia hidup hingga terjadi peristiwa Khandaq.
Ibnu Hajar rahimahullahu dlm Fathul Bari juga memaparkan kisah yg disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dlm Shahih- antara lain beliau mengatakan:
“Bahwasa ada perjanjian antara kaum musyrikin dgn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adl kelompok yg tdk ikut memerangi beliau. Diceritakan oleh Ibnu Ishaq dari para guru demikian pula oleh Musa bin ‘Uqbah dari Ibnu Syihab bahwa yg mengadakan perjanjian dgn beliau adl Bani ‘Amir yg dipimpin oleh Abu Barra` ‘Amir bin Malik bin Ja’far si Pemain Tombak. Sedangkan kelompok lain adl Bani Sulaim. Dan ‘Amir bin Thufail ingin mengkhianati perjanjian dgn para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diapun menghasut Bani ‘Amir agar memerangi para shahabat namun Bani ‘Amir menolak kata mereka: “Kami tdk akan melanggar jaminan yg diberikan Abu Barra`.” Kemudian dia menghasut ‘Ushaiyyah dan Dzakwan dari Bani Sulaim dan mereka mengikuti membunuh para shahabat..” demikian secara ringkas.
Akhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan terhadap orang2 yg membunuh para qurra` shahabat-shahabat beliau di Bi`r Ma’unah. Belum pernah para shahabat melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini.
Al-Imam Al-Bukhari menceritakan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا حِيْنَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِنَ حُزْنًا قَطُّ أَشَدَّ مِنْهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama satu bulan ketika para qurra` itu terbunuh. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berduka dibandingkan ketika kejadian tersebut.”
Ibnu Jarir meriwayatkan pula dlm Tarikh- sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dlm Zadul Ma’ad bahwa pada saat pembantaian tersebut ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari dan Al-Mundzir bin ‘Uqbah bin ‘Amir tinggal di pekarangan kaum muslimin. Mereka tdk mengetahui ada peristiwa pembantaian itu melainkan krn ada burung-burung yg mengitari tempat kejadian tersebut. Akhir mereka melihat kenyataan yg memilukan tersebut.
Mereka berembug apa yg mesti dilakukan. ‘Amr bin Umayyah berpendapat sebaik mereka kembali utk menceritakan kejadian pahit ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Al-Mundzir menolak dan lbh suka turun menyerang kaum musyrikin. Diapun turun dan menyerang hingga terbunuh pula. Akhir ‘Amr tertawan namun ketika dia menyebutkan bahwa dia berasal dari kabilah Mudhar ‘Amir memotong ubun-ubun dan membebaskannya.
‘Amr bin Umayyah pun pulang ke Madinah. Setiba di Al-Qarqarah sebuah wilayah dekat Al-Arhadhiyah sekitar 8 pos dari Madinah dia berhenti berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian datanglah dua laki2 Bani Kilab dan turut berteduh di tempat itu juga. Ketika kedua tertidur ‘Amr menyergap mereka dan dia beranggapan bahwa ia telah membalaskan dendam para shahabatnya. Ternyata kedua mempunyai ikatan perjanjian dgn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tdk disadarinya. Setelah tiba di Madinah dia ceritakan semua kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun berkata:

لَقَدْ قَتَلْتَ قَتِيْلَيْنِ َلأَدِيَنَّهُمَا


“Sungguh kamu telah membunuh mereka berdua tentu saya akan tebus keduanya.”1
Inilah antara lain yg juga menjadi penyebab terjadi perang Bani An-Nadhir yg akan dikisahkan pada edisi mendatang Insya Allah.
Dari kisah ini ulama menyimpulkan bahwa qunut yg dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah qunut nazilah. Dan itupun beliau lakukan selama satu bulan mendoakan kejelekan terhadap Bani Lihyan ‘Ushaiyyah dan lain-lain. Bukan terus-menerus sebagaimana dilakukan sebagian kaum muslimin hari ini.
Ini diriwayatkan juga oleh Al-Imam Ahmad dan lain dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ


“Bahwasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama satu bulan lalu meninggalkannya.”
Demikian pula yg disimpulkan oleh Ibnul Qayyim dlm pembahasan masalah qunut ini lihat kitab Zaadul Ma’ad .
Terakhir beliau mengatakan bahwa yg diriwayatkan dari shahabat tentang qunut ini ada dua yaitu:
a. Qunut ketika ada musibah atau bencana yg menimpa seperti qunut yg dilakukan Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu ketika para shahabat memerangi Musailamah Al-Kadzdzab dan ahli kitab. Juga qunut yg dilakukan ‘Umar dan ‘Ali ketika menghadapi pasukan Mu’awiyah dan penduduk Syam.
b. Qunut yg mutlak yg dimaksud adl memanjangkan rukun shalat utk berdoa dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

1 Lihat Tarikh Ath-Thabari 2/81 Tafsir Ibnu Katsir 1/429 4/332.

Sumber: www.asysyariah.com

Minggu, 27 November 2011

internet untuk anak tercinta



untuk selengkapnya klik disini

Banyak orang mengatakan kemajuan teknologi seperti dua mata pisau, di satu sisi memberikan kemudahan dan kemajuan bagi hidup manusia, tetapi di sisi lain terkadang juga bisa meracuni atau merusak manusia itu sendiri. Demikian juga dengan teknologi computer dan internet.

 

 

Minggu, 20 November 2011

Sentuhan Inovasi pembelajaran

Pengoptimalan hasil dari pada pembelajaran merupakan problematika yang tak hentinya dibahas. Kualitas peradaban sumber daya manusia salah satunya dipengaruhi oleh faktor pendidikan yang mengarah pada segala bidang kehidupan. Pendidikan melalui pembelajaran dilakukan untuk mendapatkan perubahan dalam diri pebelajar dengan adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik. Pembelajaran merupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik dan dapat mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan terhadap hasil belajar (kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap).

Adalah penting ketika seorang pendidik melakukan inovasi atau pembaharuan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Hal tersebut sangat beralasan ketika dihadapkan pada realita bahwa mayoritas pendidik melakukan pembelajaran yang hanya bersifat transfer pengetahuan, tanpa melihat lebih dalam peran otak dalam proses pembelajaran, karakteristik individu, dan sebagainya sehingga berdampak pada lemahnya hasil pendidikan seperti siswa yang kurang percaya diri, siswa yang lemah dalam praktik, siswa pendiam, gagal belajar dan sebagainya.

Inovasi diperlukan dalam pembelajaran untuk memfokuskan peserta didik agar dapat aktif, berpikir kritis dan dapat mengembangkan segala potensi yang tersimpan. Hasil belajar peserta didik tersebut bersumber pada kinerja otak. Bagaimana tidak, otak merupakan pusat system syaraf yang mengkoordinasikan segala sinyal-sinyal rangsangan sehingga menghasilkan informasi. Otak terdiri dari otak bagian kanan dan otak bagian kiri, dimana otak bagian kanan berfikir secara abstrak dan merupakan pusat imajinasi, sedangkan otak bagian kiri merupakan pusat berpikir logis. Berdasarkan fungsi masing-masing belahan otak, mengingatkan pada perlunya keseimbangan dan pengaktifan otak kanan serta otak kiri pada setiap proses pembelajaran.

Otak berkembangan sesuai dengan lingkungannya. Oleh karena itu lingkungan perlu diperkaya dengan informasi dan pengetahuan yang baru, sehingga otak akan senantiasa menerima penyegaran serta terkoneksi untuk menghasilkan respon. Penalaran, perencana dan penetapan keputusan, rasional berpikir, pengaturan emosi, penyimpanan atau memory merupakan fungsi daripada otak. Urgent-nya fungsi otak dalam pencapaian informasi mendorong kuat perlunya inovasi pembelajaran untuk mengkreatifkan pendidik (khususnya dalam pembelajaran) guna memberikan stimulus, sentuhan yang tepat demi terciptanya konsep, pemahaman, penalaran pada otak serta pemerkaya lingkungan pengetahuan. Pembelajaran berbasis otak merupakan salah satu inovasi yang dapat dilakukan guna memaksimalkan sistem kinerja otak agar dapat memperoleh suatu hasil pemikiran yang real dan representatif atau tepat pada sasaran yang dituju yang berkait dengan penguasaan pembelajaran.

Pembelajaran berbasis otak diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah dan aktif untuk belajar dengan menciptakan kondisi optimal untuk terjadinya pembelajaran yang alami. Pembelajaran berbasis otak didesain untuk membangkitkan otak anak untuk belajar secara mandiri dan tidak dipaksakan untuk mencapai target tertentu yang diinginkan. Namun lebih dari itu, pembelajaran berbasis otak memungkinkan terjadinya umpan balik pada proses pembelajaran sebagai hasil pemahaman terhadap informasi yang diterimanya. Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada siswa mengenai keberhasilan atau kekurangan dalam belajarnya. Umpan balik sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, yang dapat berupa reward ataupun kritikan bersifat membangun. Motivasi yang ditimbulkan akan merangsang kinerja dan memberikan sinyal-sinyal aktif pada otak. Pembelajaran berbasis otak ini juga memungkinkan tercapainya keseimbangan kerja otak kiri dan kanan melalui pembelajaran sambil bermain. Pembelajaran sambil bermain dapat mengarahkan peserta didik untuk tetap menggunakan pemikiran yang logis dan menggunakan imajinasi serta kesenangannya untuk bermain.

Hal yang juga perlu dicermati pendidik kaitannya dengan perlunya inovasi pembelajaran yaitu inividu anak sebagai pribadi dan unik. Individu anak sebagai pribadi berkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berbeda-beda, seperti pertumbuhan fisik (biologis), perkembangan kognitif dan perkembangan psikososial. Pertumbuhan fisik mengarah pada perubahan fisis kuantitatif anak yang berlainan satu sama lain seperti tinggi badan, berat, rambut, hormon, system saraf dan sebagainya.

Perkembangan mengarah pada kematangan tingkat emosional, seperti perkembangan kognitif (kemampuan berpikir, kesiapan belajar anak) dan perkembangan psikososial (emosi, kepribadian, kemampuan anak dalam beradaptasi). Perkembangan kognitif membatasi kemampuan anak yang berbeda-beda untuk memperoleh pengetahuan. Perkembangan psikososial menyebabkan terdapatnya anak yang percaya diri, minder, takut, perilaku agresif dan sebagainya. Sebagai individu pribadi, maka fisik, kognitif dan sosial anak merupakan sesuatu yang utuh, tunggal, dan khas.

Menelusur lebih jauh tentang perbedaan anak, maka dapat diuraikan pula pada sisi lain bahwa anak juga merupakan pribadi yang unik atau pebelajar yang unik. Sebagai pribadi yang unik, aspek biologis, kognitif dan psikososial masing-masing anak berbeda serta terkait satu sama lain yang artinya perkembangan anak bersifat menyeluruh (holistic). Anak sebagai pebelajar yang unik memungkinkan karakteristik yang berbeda setiap anak, seperti bakat, minat dan kompetens. Anak sebagai pebelajar yang unik tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Anak dan orang dewasa merupakan manusia yang berbeda dalam kajian kematangan fisik, mental maupun emosional. Perbedaan tersebut perlu diperhatikan karena mengarah pada karakteristik atau pola tingkah laku anak dalam belajar.

Menghadapi kekhasan pada diri setiap anak, maka guru perlu melakukan suatu inovasi yang mengkondisikan anak untuk nyaman belajar dan memberikan pembelajaran yang dapat melayani keunikan setiap anak dengan segala perbedaan yang dimilikinya. Pembelajaran konstekstual merupakan alternative inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan pada kajian pribadi dan uniknya individu pebelajar. Pembelajaran konstekstual memperhatikan beberapa hal, yaitu memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, lebih mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat. Melalui pembelajaran ini, siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar. Inovasi pembelajaran yang melayani perbedaan individu memungkinkan pemerolehan kebermanfaatan pembelajaran yang menyeluruh bagi setiap anak.

 

 

Sistem Inovasi

Sistem inovasi pada dasarnya merupakan suatu kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, jaringan, hubungan, interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik), serta proses pembelajaran.

Sistem inovasi sangat penting karena bukan semata menyangkut pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) itu sendiri [termasuk misalnya melalui pendidikan, penelitian, pengembangan dan kerekayasaan], tetapi juga bagaimana iptek dapat didayagunakan secara maksimal bagi kepentingan nasional dalam pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya. Demikian sebaliknya, perkembangan ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya, menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan dan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi arah dan kecepatan pemajuan iptek.

Jadi, sistem inovasi memiliki peran dan hubungan timbal balik sangat penting dengan pendidikan. Ini juga diungkapkan antara lain oleh Johnson dan Jacobson (2001), yang menurut mereka fungsi utama sistem inovasi adalah :

  1. Menciptakan pengetahuan baru.

  2. Memandu arah proses pencarian penyedia dan pengguna teknologi, yaitu mempengaruhi arah agar para pelaku mengelola dan memanfaatkan sumber dayanya.

  3. Memasok/menyediakan sumber daya, yaitu modal, kompetensi dan sumber daya lainnya.

  4. Memfasilitasi penciptaan ekonomi eksternal yang positif (dalam bentuk pertukaran informasi, pengetahuan dan visi).

  5. Memfasilitasi formasi pasar.


Sementara itu, Liu dan White (2001) juga mengungkapkan beberapa aktivitas penting dalam sistem :

  1. Riset (dasar, pengembangan, dan rekayasa);

  2. Implementasi (misalnya manufaktur);

  3. Penggunaan akhir/end-use (pelanggan dari produk atau output proses);

  4. Keterkaitan/linkage (menyatukan pengetahuan yang saling komplementatif); dan

  5. Pendidikan.


Jadi jelas bahwa dalam pengertian yang disampaikan di atas, ini berarti bahwa sistem pendidikan merupakan elemen/pilar sangat penting bagi berkembangnya sistem inovasi (nasional maupun daerah, serta sektoral/industrial). Sebaliknya, sistem inovasi yang kuat akan mendukung perkembangan pendidikan yang semakin baik pula.

Bagaimana kita dapat melakukan perbaikan yang bersifat timbal balik pada penguatan sistem inovasi dan pendidikan di Indonesia? Saya meminjam kerangka kebijakan inovasi yang diusulkan (dan sedang terus dikembangkan) dalam RAKORNAS RISTEK April 2008 di Palembang. [catatan : pengertian sederhana kebijakan inovasi adalah himpunan kebijakan untuk mendukung pengembangan/penguatan sistem inovasi]. Saya pernah menyinggung juga tentang ini secara singkat di blog publik Kompas.
Atas dasar kerangka kebijakan inovasi ini, maka beberapa hal penting perlu dilakukan di Indonesia antara lain adalah :

Kondisi Umum. Dalam hal ini perlu langkah perbaikan dalam peraturan perundangan, infrastruktur (fasilitas) dan sarana pendidikan [formal, non formal, informal] serta tenaga pendidik yang mendukung ketersediaan, aksesibilitas dan "afordabilitas" bagi seluruh masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas di seluruh wilayah Indonesia. Ini yang mendasar. Tetapi jangan juga mengabaikan pengembangan kompetensi yang semakin kuat pada bidang-bidang tertentu (selektif) yang mendukung penguatan keunggulan daya saing dan kemandirian bangsa.
Catatan penting : jangan sampai pengembangan sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan ”unggulan” menjebak kita hanya menyedikan lembaga pendidikan untuk anak/orang pandai dan memiliki kemampuan ekonomi. Pendidikan merupakan investasi untuk membuat orang menjadi pandai dan cerdas.

Kelembagaan dan Daya Dukung Iptek, serta Kapasitas Absorpsi Iptek oleh Industri. Penataan di bidang ini terbuka luas, apalagi jika dikaitkan dengan amanat dalam UU No. 20/2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Iptek, dan sejalan pula dengan kelahiran UU No. 39/2008 tentang Kementerian dan Kementerian Negara.
Ambil contoh tentang kesejalanan pendidikan dan pengembangan industri (dunia usaha). Jika penentu kebijakan di kedua “bidang” ini jalan sendiri-sendiri dan lembaga pendidikan tak mau tahu perkembangan dalam masyarakat dan dunia usaha, maka tak perlu heran kalau sarjana-sarjana baru pun akan semakin memperpanjang antrian pengangguran terdidik di negara kita dari waktu ke waktu.

Lembaga pendidikan vokasi yang baik sangat diperlukan. Selain itu, ke depan, beberapa perguruan tinggi terutama di bidang teknik (engineering) dan bisnis/ekonomi perlu didorong agar menjadi entrepreneurial universities. Ini tentu tidak harus perguruan tinggi negeri saja. ATMI Solo merupakan salah satu contoh perguruan tinggi yang memiliki program vokasi sangat baik di Indonesia. UMN Tangerang, walaupun usianya tergolong sangat muda, juga tengah berupaya menjadi perguruan tinggi yang memiliki kekuatan dalam menghasilkan technopreneur masa depan yang baik.

Alasan Inovasi Pembelajaran

Inovasi, sudah tidak menjadi hal aneh lagi dalam pembelajaran saat ini. Bahkan inovasi sudah harus menjadi bagian program pokok bagi seorang pengajar. Mungkin, tanpa inovasi, proses pembelajaran yang berlangsung akan menjadi membosankan. Dan pertanyaannya, mengapa inovasi begitu diperlukan dalam pembelajaran?? ..

Menilik kepada perkembangan iptek saat ini, dunia pendidikan pun tidak mau ketinggalan dengan berbagai pembaruan yang dikarenakan kemajuan iptek tersebut. Adanya pola pikir yang semakin maju, maka dunia pendidikan seyogyanya harus bisa menyesuaikan dan mengantisipasi perkembangan pola-pola tersebut dengan terus mengupayakan suatu program yang sesuai dengan perkembangan anak, situasi, kondisi, serta berbagai kebutuhan individu maupun masyarakat. Pola pikir tersebut erat kaitannya dengan rangkaian prinsip serta sebuah dasar pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki otak manusia. Otak manusia terdiri dari belahan otak kanan, tengah, dan kiri yang mana penggunaan antar bagian tersebut haruslah seimbang. Otak merupakan aktivasi pembelajaran yang bertindak sebagai pos perjalanan dari berbagai stimuli yang didapat. Faktor-faktor pembelajaran tersebut bisa dipengaruhi oleh teman, disfungsi otak, pra pembelajaran, pengalaman, sifat, temperamen, gen, dan nutrisi.

Anak sebagai individu yang unik memiliki perkembangan yang sifatnya holistik, yaitu menyeluruh dan tidak hanya terjalin dengan yang lainnya. Dalam segala aspek, ia berbeda dengan orang dewasa dan ia bukan miniaturnya orang dewasa. Dan antara individu satu dengan yang lainnya pun memiliki karakter yang berbeda-beda.

Untuk itu, penting kiranya bagi guru untuk selalu memberikan suatu pengajaran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu. Individu sebagai si pebelajar mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang individu juga mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat tentang hal-hal yang baru.

Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar sangatlah penting. Dengan demikian, peran guru yaitu membantu menghubungkan antara hal yang baru dan hal yang sudah diketahui siswa, guru juga harus bisa memfasilitasi agar informasi baru yang didapat bisa bermakna, memberi kesempatan kepada individu untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan individu untuk menerapkan strategi mereka sendiri. Dalam pembelajaran, individu perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Dan proses belajar tersebut akan mampu mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan yang sering dilakukan seseorang. Dengan demikian, penting bagi para pengajar untuk melakukan inovasi yang selalu memperhatikan kemampuan yang dimiliki individu dalam setiap pembelajaran…

Rabu, 09 November 2011

“Pembelajaran Kontekstual Sebagai Salah Satu Metode Inovasi”

Contextual teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penh ntuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, kedua CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, ketiga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan.

Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL.

  1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)

  2. Pembelajaran ntuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge)

  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge)

  4. Mempraktikan pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knomledge)

  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge)


B. Latar Belakang Filosofi dan Psikologis CTL

  1. Latar belakang Filosofis


CTL banyak dipengarhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. Skema terbentuk karena pengalaman, dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna yang kemudian disebut dengan proses akomodasi.

Pendapat Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya model pembelajaran kontekstual.. menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa.

  1. Latar belakang Psikologis


Dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman.

Ada yang perlu dipahami tentang pbelajar dalam konteks CTL.

  • Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki



  • Belajar bukan sekedar mengumnpulkan fakta yang lepas-lepas.



  • Belajar adalah proses pemecahan masalah



  • Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks


Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan

“Pembelajaran Kolaboratif Sebagai Salah Satu Inovasi Dalam Pembelajaran”

Perspektif psikologi sosial tentang pembelajaran lebih melihat pada pengaruh-pengaruh organisasi sosial kelas dalam pembelajaran. Organisasi sosial kelas tersebut dapat dilihat dari 3 struktur. Yaitu :

  1. Struktur pengelompokan kelas, yang meliputi struktur pembelajaran bebas, struktur kelompok-kelompok kecil, dan struktur kelas keseluruhan. Masing-masing struktur pengelompokan tersebut memiliki karakter yang khas yang akan mewarnai proses belajar mengajar.

  2. Struktur otoritas, lebih menekankan seberapa banyak guru melakukan pengendalian terhadap segala aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh siswa. Besar kecilnya kadar keterlibatan guru dalam proses pembelajaran ditentukan oleh kebutuhan akan pembelajaran yang tentunya akan mewarnai kualitas proses pembelajaran.

  3. Struktur penghargaan, secara umum dapat dibedakan atas struktur penghargaan individualistik, kompetitif, dan kolaboratif. Dalam rangka organisasi sosial kelas, struktur penghargaan kolaboratif memiliki posisi paling strategis.


Di samping 3 struktur kelas yang diungkapkan tersebut, terdapat pula 2 struktur yang lain, yaitu tugas dan tujuan. Struktur tugas mengacu pada pada 2 hal, cara pengorganisasian pembelajaran dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa didalam kelas. Struktur tujuan suatu pembelajaran adalah jumlah saling ketergantungan yang dibutuhkan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.

Dalam struktur individualistik, para siswa mengatakan “me alone” dan merasakan tidak memiliki ketergantungan pada siswa lain dalam rangka mencapai tujuan. Dalam struktur tujuan kompetitif, siswa mengatakan “me instead of you”. Dalam mencapai tujuan kompetitif, siswa lebih didorong oleh keinginan bersaing. Dalam pembeajaran kompetitif, siswa dapat mencapai suatu tujuan jika siswa lain tidak mencapai tujuan tersebut (Arends, 1998; Bennert et al., 1991; Qin &johson, 1995)

Struktur tujuan kolaboratif dicirikan oleh jumlah saling ketergantungan yang begitu besar antar siswa dalam kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa mengatakan “we as well as you”, dan siswa akan mencapai tujuan hanya jika siswa lain dalam kelompok yang sama dapat mencapai tujuan mereka bersama (Arends, 1998; Heinich et al., 2002; Slavin, 1995; Qin & Johson, 1995).

Kesuksesan dalam praktek-praktek pembelajaran memiliki sifat-sifat yang didukung oleh beberapa alasan. Pertama, partisipasi aktif siswa. Pembelajaran efektif terjadi apabila para siswa secara aktif terlibat dalam tugas-tugas yang bermakna dan akan terlibat dalam berinteraksi dengan isi pelajaran. Kedua, praktek. Dalam konteks-konteks yang bervariasi, praktek dapat memperbaiki retensi dan kemampuan menerapkan pengetahuan baru, ketrampilandan sikap. Ketiga, perbedaan-perbedaan individu. Metode pembelajaran dikatakan efektif apabila dapat mengatasi perbedaan-perbedaan individu dalam hal personalitas, bakat umum, pengetahuan awal siswa. Keempat, balikan. Balin sangat diperlukan untuk menentukan posisi diri siswa sendiri tentang tugas yang dikerjakan. Kelima, konteks-konteks realistik. Para siswa paling mudah mengingat dan menerapkan pengetahuan yang direpresentasikan dalam suatu konteks dunia nyata. Keenam, interaksi sosial, melayani kemanusiaan sebagai tutor atau anggota kelompok teman sebaya dapatmenyediakan sejumlah pedagogik dan juga dukungan-dukungan sosial.

Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction) pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan perbedaan antar individu. Penbelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari 2 kekuatan yang bertemu, yaitu :

  1. Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratifdalam kehidupan di dunia nyata

  2. Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.